Memilih ‘hidup dengan niat’

Atau intentional living bahasa yang kerap ditemukan dalam tagar-tagar di sosial media. Bagi saya, hidup dengan niat adalah usaha untuk memaknai, menghargai dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Saya melihat bahwa semua hal yang ada di dunia ini tercipta dengan maksud (walau saya masih gatau fungsi kecoa apa huhu) dan kita perlu ilmu untuk memahaminya.

Bahwa tanaman dan hewan diciptakan dengan maksud, begitu pula dengan keberadaan manusia serta benda-benda mati lainnya. Bahwa setiap tindakan kita ada konsekuensinya. Bahwa setiap hal yang kita miliki akan ditanyakan kegunaannya. Bahwa badan & segala organ di dalamnya perlu diperhatikan.

Maka, untuk itu kita perlu ilmu, dan itulah makna kehidupan.

Mengapa mulai beralih ke organik

2013. Seekor gajah liar jantan, muda dan gagah melintas di depan saya. Sembari bersembunyi di balik batu besar saya mengintip dia dan kelompoknya yang sedang mencicipi air di sungai lalu mengambil tanah basah disekitarnya untuk dimakan.

Baru kali itu saya melihat gajah liar, benar-benar liar; hidup di alam bebas walau dengan wilayah teritori yang semakin menyempit dan ancaman kehidupan yang semakin besar.

Beberapa tahun sebelumnya, saat masih menjadi mahasiswa dan aktif berkegiatan di alam, saya selalu ingat untuk tidak menggunakan peralatan mandi berbahan kimia agar tidak mengotori air sungai. Sehingga para pendaki bisa tetap mengambil air dari sungai apabila persediaan air mereka habis. Tapi dulu, itu dilakukan agar kami, sesama manusia tetap ‘aman’ saat berada di alam.

Kemudian, selepas itu dan mulai ‘bekerja’ di alam serta melihat langsung bahwa ada spesies lain yang menggantungkan kehidupannya dari semua sumber daya alam (terutama pepohonan dan air di sungai) barulah saya sadar bahwa tindakan manusia bisa menyebabkan mereka tidak ‘aman’. Setiap sabun, shampo, odol, deterjen, dan pencuci muka yang mengandung bahan kimia akan mengalir ke sungai, menyatu dengan air dan tak tampak oleh mata. Air tersebut kemudian diminum oleh berbagai hewan dan juga manusia, apabila itu menjadi satu-satunya pilihan.

Seiring berjalannya waktu, saya dan teman-teman di Get Aceh sepakat untuk mulai mengurangi pemakaian peralatan mandi yang mengandung deterjen, terutama bagi kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam, khususnya hutan primer dan kepulauan kecil. Kami berupaya untuk memberi penjelasan kepada teman-teman yang datang sembari mencari alternatif pengganti. Sayangnya, kala itu masih sulit mencari sabun atau shampo organik.

Pengalaman tahun 2013 itu benar-benar menjadi ketukan; apa yang larut di air juga membahayakan spesies lain. Air adalah media bagi partikel yang dapat larut, baik ataupun buruk. Betapa egoisnya kita, manusia, apabila mampu untuk tidak mencemarinya tetapi masih menggunakan produk-produk yang ikut membahayakan.

Contoh nyatanya gini, ada beberapa kampung di suatu wilayah pertambangan emas, dulu wilayah tersebut minum, menanak nasi, mencari lauk (ikan), mandi dari sungai yang mengalir sepanjang perkampungan mereka. Mereka tahu bahwasanya seringkali saat mandi menemukan serpihan emas, tetapi barulah benar-benar mencari dimana emas itu berada saat ada beberapa pemodal melakukan eksplorasi emas. Pelan-pelan masyarakat perkampungan tersebut ikut bekerja di lubang-lubang emas. Mereka dengan sadar melihat bahwa ikan-ikan di sungai mati karena limbah emas yang mengandung merkuri dibuang ke sungai. Memang, kemudian perekonomian meningkat jika dilihat dari jumlah kendaraan. Tetapi tidak ada lagi yang berani mandi di sungai. Sayangnya, bagi mereka yang masih membutuhkan air dari sungai tersebut tidak dapat lagi mengambilnya, kecuali siap untuk menelan merkuri.

Itu baru kisah dari satu wilayah, padahal di Indonesia ada banyak sekali kasus seperti ini.

Nah, karena saya masih belum mampu untuk melakukan perubahan dalam ranah kebijakan, jadi saya memutuskan untuk merubah gaya hidup saya sendiri…..dan ternyata sulit ya.

Iya, sulit, karena pilihan ga banyak. Sekarang udah lebih banyak pilihan sih kalau untuk urusan body scrub, body butter, shampoo, sabun, dan pasta gigi. Cukup oke untuk saat ini. Tapi kita sebagai konsumen bisa mampu mendorong industri agar lebih menuju organik. Yuklah, kalau belum mampu untuk mengubah kebijakan agar perusahaan ‘jahat’ berhenti melakukan kejahatan pada bumi & manusia, paling engga kita dorong perubahan dari gaya hidup kita sendiri. Pelan-pelan mulai kurang-kurangi belanja dengan kantung plastik atau mulai pelajari ‘isi’ makanan atau produk yang kita pakai. Cliche? Iya emang, tapi manusia itu pada dasarnya emang sulit berubah – otak dan tubuh ini sejatinya males keluar dari kebiasaan. Jadi, kalau ga dimulai sekarang, mau kapan lagi?

Setelah sekian lama hiatus

Akhirnya memutuskan untuk menulis lagi!

Processed with VSCO with m3 preset

Ya, setelah sekian lama sibuk sama pikiran sendiri, akhirnya tersadar (kembali) bahwa itu semua ga akan mengubah apapun.

Jadi, sekarang saya berdomisili di DKI Jakarta, sedih harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu setelah bertahun-tahun disana; diantara manusia, hutan dan laut. Setelah aktif di ranah konservasi alam dan peningkatan ekonomi masyarakat, tahun 2015 lalu saya lanjut sekolah dengan dana beasiswa. Menariknya, justru selama sekolah di luar inilah pertempuran batin terjadi. Diskusi-diskusi aktif, lecture series, summer school, dan observasi membuat saya untuk berpikir ulang; apa saya benar-benar sudah menuju jalan yang benar? Apakah saya sudah melihat masalah dari segala sisi dan mencari alternatif yang paling mungkin?

Processed with VSCO with a6 preset

Dan kini, saya memutuskan untuk menjadi peneliti di sebuah lembaga think tank, demi mengasah keterampilan saya dalam melihat perkara hidup lebih seimbang. Isunya tentu ga jauh-jauh dari apa yang saya pahami (lingkungan, transformasi ekonomi, dan sosial -gimana caranya agar ini bisa seimbang). Selain itu juga ingin mengetahui lebih dalam bagaimana sebuah kebijakan negara/daerah dibuat dan (alasan utamanya) ingin agar kedepannya kebijakan negara/daerah selalu dilandaskan pada bukti-bukti nyata.

Sepintas mungkin terdengar naif ya?. Tentu, saya tidak dapat menampik ada peran ‘pihak-pihak lain’ yang juga ‘ikut bermain’.

“Ah, negara udah kacau balau gini, kekacauan dimana-mana, mau ngapain? evidance-based policy? mimpi!”

Processed with VSCO with a6 preset

Yak, begitulah sentimen-sentimen akan terus terjadi. Dunia memang seperti itu. Baik atau buruk, apapun yang kita lakukan akan tetap menimbulkan sentimen pada orang-orang lain. Tapi jika sentimen itu terjadi, apakah kita harus mundur dan berhenti? Tidak. Tidak boleh. Jika memang ada yang skeptis terhadap negara, maka yang harus kita tawarkan adalah solusi alternatif. Bagaimana caranya?

Melalui percepatan penyebaran pengetahuan hingga mendorong kebijakan yang berlandaskan pengetahuan (global dan lokal) bukan naluri saja. Itu sudah!

Semoga apa yang saya putuskan ini, dikemudian hari dapat membawa hal yang baik untuk Aceh. Walau raga di Jakarta, tapi hati masih di Aceh. Selalu.

Ps. GetAceh tetap ada, dan selamanya akan tetap ada.

Di atas sebuah piring

Rasanya sudah lebih dari 400 hari ia menjalani komitmen untuk tidak mengunggah ke media sosial perihal makanan-makanan yang dimakan, ataupun yang ia buat.
Frascati memandang makanannya yang berisikan pasta, keju yang sudah meleleh, hadiah dari teman satu flatnya yang baru pulang dari Brussel, potongan-potongan jamur kancing, dan bayam. Ia menambahkan daun bawang dan beberapa tabur cecabaian yang dibawakan oleh kakaknya dari Indonesia. Disamping makanan yang ditaruh dalam mangkuk besar, ia menuang jus buah tropis dalam secangkir gelas.
Badan Frascati cenderung kecil jika dibandingkan teman-teman satu flat-nya, tetapi tidak jauh berbeda dari tipikal perempuan di negara asalnya. Namun, kuantitas makanan yang dimasukkannya ke badan bisa dibilang hampir sama dengan porsi teman-teman satu flat-nya yang terbiasa makan satu loyang pizza sendirian.
Siang itu ia duduk sendiri di sofa ruangan dapur, menyantap satu demi satu pasta keriting tanpa bubuhan garam ataupun saus pasta. Warna pastanya kuning pucat, dan kalau bukan karena taburan cabai, potongan jamur serta bayam, pastilah ia juga tidak mau memakannya. Dari tempatnya duduk tampak hujan mengguyur sepeda-sepeda penduduk flat lainnya. Hujan di musim panas.
Saat-saat dalam kesendirian inilah ia bisa merenung, melihat ulang hidupnya, dan membuat keputusan internal. Ia ingat betapa dulu ia senang memasak dan mengunggahnya ke laman media sosial yang ia punya; mulai dari gulai telur, sayur asam, iga sapi bakar, sup ikan, nasi biryani, sushi, biskuit-biskuit hingga masakan-masakan kreasinya sendiri. Bahkan es krim batang yang ia beli di pinggir jalan pun menjadi objek untuk difoto dan dipamerkan, terkadang dalam baris penjelasan ia akan menambahkan tagar-tagar yang menggambarkan betapa senangnya ia mendapatkan es krim tersebut.
Sampai suatu ketika ia tidak sempat memasak dan memutuskan untuk makan di warung pojok jalanan dekat kantornya. Warung mungil dengan etalase berbagai macam lauk kering dan basah. Setelah memilih nasi ditemani sayur dan ikan tongkol, ia duduk di kursi plastik berwarna hijau. Di kota tempatnya tinggal, sedikit sekali orang yang kelaparan, pikirnya. Walaupun ada satu dua orang yang ia lihat mengemis tapi relatif sedikit jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di negara tempat ia tinggal. Mungkin karena memberi makan kepada tetangga masih menjadi sebuah kebiasaan.
Hingga ia tiba di Ibukota dan melihat bahwasanya ada banyak sekali orang kelaparan, lalu saat ia pindah ke negeri abu-abu; negeri yang menjadi sumber keuangan banyak orang di dunia, ia melihat orang-orang mengemis untuk dapat makan. Bahkan ada beberapa orang yang duduk di dekat restauran cepat saji, menanti sisa-sisa makanan saat restauran tutup.
Di negara yang menjadi pusat keuangan dunia, manusia bertatih-tatih mengumpulkan uang demi memasukkan makanan ke dalam perutnya. Mereka yang beruntung akan mendapatkan pendidikan yang layak, bekerja dengan penghasilan yang mampu ditukar dengan bahan makanan segar serta rumah untuk berlindung dari suhu luar yang kejam, juga mendapatkan teman-teman dengan pikiran yang serupa. Mereka yang kurang beruntung, entah apapun alasan dibaliknya, akan merasakan dinginnya suhu saat malam hari, lalu berusaha mengumpulkan uang agar bisa mendapatkan sekotak kentang potong di siang hari.
Frascati selesai menghabiskan makanannya dalam mangkuk berukuran 2 liter, ia lalu meminum jus buah tropis, yang sudah tentu diambil dari negara-negara selatan. Kemudian berdiri menuju tempat cuci piring. Hujan sudah reda, walau matahari belum tampak. Langit masih abu-abu saat beberapa temannya melepaskan kunci sepeda dari tempatnya.
Sudah lebih dari 400 hari ia menyadari bahwa ia bukan seorang juru masak yang mendapatkan penghasilan dari usahanya, pencari makan dari makanan, ataupun seseorang yang butuh pengakuan dari masyarakat luar atas hal-hal yang didapatkannya di depan meja makan.
Marston, Mei 2016

Teknologi dan kampung halaman

Pertanyaan ini sebenarnya sudah sering lalu lalang di otak sejak beberapa tahun belakangan. Tapi percakapan dengan seorang teman dekat mengenai digitalisasi situs-situs arkeologi menjadi titik klimaks pertanyaan ini dalam diri.

Awal tahun 2016, tepatnya pada bulan April, Trafalgar Square di London menjadi saksi terciptanya kembali Monumen Arch atau dikenal juga sebagai Palmyra’s Triumphal Arch. Sebuah monumen bersejarah yang dibangun pada abad ke-3 di Palmyra, Syria. Monumen ini hancur pada tahun 2015 akibat kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut.

Beberapa akademisi dari University of Oxford dan Harvard University berinisiatif untuk membentuk Institut Arkeologi Digital (The Institute for Digital Archaeology), lalu mendirikan ulang Monumen Arch tersebut dengan bantuan beberapa pihak. Para sukarelawan dibekali alat secukupnya lalu data-data yang terkumpul disimpan dan dapat diakses langsung melalui situs The Million Image Database. Bulan September nanti, New York akan menjadi saksi kedua atas kerja keras yang dilakukan oleh mereka.

Saya salut atas inisiatif mereka untuk melakukan aksi nyata; mendokumentasikan kekayaan budaya yang hancur akibat konflik dan bencana alam serta membangun kembali situs-situs tersebut dengan bantuan teknologi. Mereka menunjukkan semangat bahwa dengan cara apapun situs tersebut rusak, memori-memori didalamnya dapat dibangun kembali.

Teknologi semakin banyak digunakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan manusia. Termasuk para new social entrepreneur, baik di level lokal, nasional dan internasional. Dengan adanya teknologi, permasalahan sampah di lautan dapat diselesaikan (cth: http://www.theoceancleanup.com/), listrik dapat diakses dengan lebih mudah (cth: http://deciwatt.global/), pilihan transportasi menjadi lebih banyak (cth: Go-jek, Uber, Grab), bahkan masyarakat perkotaan juga bisa terhubung langsung dengan petani (cth: https://www.igrow.asia).

Saya jadi ingat di salah satu pulau tempat saya bekerja, ada satu orang nelayan yang menggunakan GPS untuk menandai dimana tempat yang tepat baginya untuk memancing; ia merasa bahwa teknologi tersebut sangat memudahkannya dalam mencari rejeki. Saya bisa membayangkan jika suatu hari ada yang membuat sebuah aplikasi ‘serupa’ di telepon pintar; bisa memberi tahu di wilayah apa ikan berada dan hari apa yang paling baik untuk memancing berdasarkan perkiraan cuaca.

Teknologi berkembang secara pesat dan tidak dapat dipungkuri bahwa ini hanya perkara waktu hingga akhirnya segala aspek kehidupan melibatkan teknologi. Tapi ada satu isu dalam otak ini yang belum terpuaskan; teknologi-teknologi yang ada seringkali belum memecahkan permasalahan dari akarnya.

Monumen yang hancur dapat diciptakan kembali, tetapi para penghancur masih tetap saja berkeliaran. Sampah dilautan bisa dihilangkan tetapi kebiasaan membuang sampah ke laut masih jamak. Listrik bisa diakses dengan lebih mudah tetapi kewajiban pemerintah untuk menyediakan ini seolah termaafkan. Keamanan memancing bisa saja lebih terjamin tetapi apa jadinya jika banyak nelayan yang menggunakan teknologi tersebut hingga menimbulkan konflik baru.

Saya jadi bertanya: Apakah sebenarnya dalam pengembangkan teknologi-teknologi ini melibatkan teman-teman dari bidang sosial, dan apakah teman-teman bidang sosial sadar bahwa perannya besar untuk ikut aktif dalam perkembangan ini?

Antara riset dan aksi nyata

“Jadi kamu belum pernah melakukan aksi nyata ya? sepertinya kamu kebanyakan melakukan riset-riset aja”

Siang itu saya berhadapan dengan dua perempuan dari sebuah lembaga bernafaskan pembangunan untuk ibu-ibu di daerah minim akses, kami duduk bertiga di teras pada sebuah bangunan hunian nan tinggi di daerah Kemayoran.

Pertanyaan yang diajukan tersebut sempat membuat saya mengerutkan dahi sembari mencoba untuk memahami mengapa ia bertanya seperti itu. Apakah riset tidak dianggap sebagai aksi nyata?

“Saya pikir semua tindakan butuh riset terlebih dahulu, namun memang, spektrum riset itu beragam. Riset membantu aksi nyata kita menjadi lebih mudah, dan saya sudah mulai melakukan aksi nyata sejak 7 tahun silam”, jawab saya.

Saya jadi teringat, dulu sewaktu awal-awal membentuk Get Aceh, kami tidak melakukan riset yang mendalam atas apa yang mau kami lakukan; yang penting saat itu adalah – lakukan. Walhasil, apa yang kami lakukan pada saat itu sifatnya tidak jangka panjang – penuh trial and error sampai akhirnya kami benar-benar paham apa yang ingin lakukan. Tanpa memungkiri bahwa pengalaman mampu memberikan pelajaran, seiring berjalannya waktu saya sadar riset itu sangatlah penting untuk mendukung sebuah inisiatif.

Trial and error itu baik. Tetapi waktu, tenaga dan dana yang terpakai akan lebih efisien jika kita melakukan riset terlebih dahulu.

Dari pertanyaan tersebut saya jadi berpikir bahwa ‘riset’ yang dipahami oleh kebanyakan orang adalah riset-riset konvensional yang berjarak dari masyarakat. Padahal sebenarnya dengan melebur bersama masyarakat kita dapat melakukan riset dengan lebih baik (tentu, jika riset tersebut diperuntukkan untuk memecahkan masalah di masyarakat). Berorientasikan aksi transformatif, riset yang dilakukan haruslah melibatkan banyak komunitas atau anggota masyarakat agar mendapatkan pemahaman yang mendalam, hal ini tentu tidak dapat dilakukan oleh seorang diri (walaupun dapat di inisiasikan oleh satu orang).

Maka dari itu, saya pikir riset dan aksi tidak perlu dipisahkan, karena keduanya saling melengkapi dan keduanya adalah hal yang nyata.

Bagaimana menurutmu, apakah riset itu bukan termasuk dalam aksi nyata?

Potongan ingatan dari Yunani

IMG_0940[Disclaimer: ini hanya catatan agar ingatan tidak dihilangkan oleh waktu]

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa dari negara lokasi sekolah, tentu sumber daya ekonomi sangat terbatas. Maka, sebagai konsekuensinya, untuk dapat hidup yang layak dan bisa jalan-jalan perlu manajemen keuangan yang sangat (amat) baik. Sudah pasti, jangan bandingkan situasi ini dengan beberapa orang yang punya pendapatan diluar beasiswa ataupun dengan penerima beasiswa dari negara asal (apalagi dari regional Timur Tengah, pokoknya jangan!). Bagi saya yang berusaha untuk tidak mengeluarkan rupiah selama hidup di Inggris, mau-tidak-mau harus menelan kenyataan ini.

Setelah beberapa bulan sekolah, pada bulan Mei lalu saya akhirnya berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu negara di daratan Eropa, yakni Yunani. Orang-orang biasanya jalan-jalan pergi ke Perancis, Belanda, Spanyol, Italia, dsb – eh saya malah pergi ke Yunani. Sebenarnya rencana perjalanan ini memang sudah agak lama, tapi eksekusinya baru satu bulan sebelum tanggal yang ditentukan. Kali ini saya akan jalan bersama dengan Angie, sahabat dari SMA sekaligus travelmate yang setia, kami berencana menjelajahi beberapa tempat di wilayah selatan Yunani.

Akhir bulan Mei, siang itu saya tiba lebih dahulu daripada Angie, menunggu beberapa jam di ruang tunggu sambil memerhatikan orang-orang di bandara; ada Bapak berbaju safari sedang setengah mengantuk, Ibu disamping saya yang sejak saya duduk hingga berdiri masih berbicara dengan orang lain melalui telepon genggam, serta beberapa orang yang datang dan pergi di depan saya.

Angie tiba dari Indonesia sekitar jam 5 sore, kami berpelukan dan menyadari bahwa ternyata sejak 2012 kami selalu menyempatkan diri untuk pergi jalan-jalan berdua, sekali setahun, ke tempat yang ditentukan secara acak.

Yunani yang kami lihat cukup jauh dari imajinasi negara yang terhimbas krisis ekonomi ataupun pengungsi. Memang, ada perbedaan yang cukup signifikan antara Athena (Athens) dengan daerah-daerah lain yang kami kunjungi seperti Zakyntos, Corinth, dan Sifnos. Di Athena, banyak toko-toko yang tutup dan berdebu, dinding-dinding bercoretan pylox, serta beragam kampanye sosial berbentuk mural. Walau demikian, ada sudut bagian yang relatif bersih untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Biasanya, di daerah-daerah yang touristy seperti Plaka, Acropolis atau Parthenon.

Dari Athens ke arah timur menuju pulau Zakyntos, menyebrangi pulau dengan satu-satunya kapal yang…………membuat rahang hampir jatuh dan terheran-heran. Kami membayar tiket dengan harga yang sama dengan sepiring nasi Thailand di Oxford, tetapi kapal tersebut mempunyai ekskalator, wifi, sofa, penyejuk ruangan, café, bahkan mobil kombi yang ditaruh di lantai 1 hanya untuk dipamerkan. Kapal ini mempunyai tiga lantai, yakni lantai dasar, lantai 1 yang berisikan tempat duduk dan sofa-sofa, serta lantai dua untuk helipad.

Setibanya di pulau tersebut, kami cukup bingung karena hampir semua toko beralfabet Greek, hingga tiba di daerah tepi pantai barulah terlihat tulisan-tulisan berhuruf latin. Orang-orang Zakyntos sungguh ramah dan lugu; sempat ada seorang perempuan yang berusaha untuk ngobrol dengan kami, tetapi setelah beberapa kalimat percakapan ia dengan polosnya mengatakan bahwa Indonesia dan Thailand negara yang bertetangga dengan Afrika Utara. Saya dan Angie tertawa garing ‘a-ha-ha’, saling menatap dan memberi kode OK-deh-kita-pergi-dulu-ya.

Dari Zakyntos kami menguji kesehatan jantung di Corinth Canal dengan mencoba bungee jumping. Cukup sekali-aja-ampun. Lalu meneruskan perjalanan ke pulau Sifnos (bukan Santorini): pulau yang mayoritas dikunjungi oleh orang-orang lokal Athena, dan beberapa orang Inggris.

Sebenarnya ada beberapa cerita lain dalam perjalanan kami, tapi biarkanlah hal tersebut menjadi rahasia diantara kami. Sementara itu, silahkan menikmati beberapa penggal memori yang tertangkap di kamera telepon genggam saya.

Seorang teman pernah berkata “You are not really traveling if you do not see something that switch your perspective of the country from what you saw in the media” – ‘kamu tidak benar-benar melakukan perjalanan jika kamu belum melihat sesuatu yang mengubah pandanganmu terhadap negara tersebut dari apa yang kamu lihat sebelumnya di media’.

Cemburu

Sejak kecil saya dibesarkan dalam keluarga yang selalu saja membandingkan pencapaian diri dengan saudara-saudara yang lain. Baik saudara kandung ataupun saudara jauh dalam satu keluarga besar.

Membandingkan diri dengan orang lain, terutama saudara dekat, sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Entah itu namanya motivasi atau tertekan. Membandingkan pencapaian antar-saudara sudah seperti puasa Nabi Daud, cuma selang satu hari untuk menginstirahatkan kepala dan hati.

Entah sejak kapan kebiasaan itu muncul dalam keluarga, mungkin karena dulu Minek (nenek dari Ayah) satu-satunya ibu di kampung yang memberikan izin kepada anak perempuannya untuk merantau setelah menstruasi pertama demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Bisa jadi, kebiasaan tersebut muncul sejak anak-anak Minek mulai merantau keluar kampung, baik perempuan ataupun laki-laki. Lalu menurun pada cucu-cucunya, kemudian pada cicit-cicitnya.

Sejak masa perantauan pertama yang dilakukan oleh anak-anak Minek dan mereka mampu mencapai pendidikan minimal setara Master (beberapa ada yang sampai Doktoral), maka setiap keturunannya sudah lumrah untuk melakukan hal yang serupa. Ayah, pada setiap kesempatan, selalu bercerita bagaimana sulitnya ia mendapatkan akses pendidikan, terlebih dengan kondisi banyak saudara dan tanpa ‘modal’ yang cukup.

Mungkin, bisa jadi, kebiasaan membandingkan itu bukan bermaksud untuk membandingkan. Tapi untuk mensyukuri kondisi anak masing-masing, yang sayangnya, tetap saja terbenam dalam otak bahwasanya ada ‘persaingan dalam keluarga’. Tidak peduli pada pencapaian orang lain diluar keluarga.

Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga ya. Kenapa harus bersaing? bersaing untuk apa?

Dulu saya seringkali cemburu pada mereka yang lebih cantik, yang lebih mancung, yang lebih sering membaca, yang lebih sering diceritakan saat arisan keluarga, ataupun yang pajangan penghargaannya menghiasi dinding rumah. Ada perasaan bahwa besar tidaknya kasih sayang keluarga dipengaruhi oleh seberapa ‘membanggakannya’ prestasi seorang anak.

Seiring berjalannya waktu, saya melihat lagi kebiasaan tersebut dengan emosi yang lebih baik.

Ya, memang, tentu saja saya masih cemburu pada mereka yang mampu meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca. Tetapi kini saya sadar bahwasanya keluarga adalah keluarga, termasuk didalamnya drama dan dinamika yang harus diterima. Bahwa setiap keluarga memiliki kondisi dan karakter yang berbeda-beda. Bahwa keluarga adalah kumpulan individu untuk saling mendukung, mengasihi, memahami keputusan masing-masing, memberi pengaruh baik, serta memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal di belakang.

Konflik Sumber Daya Alam

Seseorang pernah bertanya saat dia mengetahui topik disertasi saya (di Inggris tugas akhir s2 disebut disertasi), kenapa dari fokus pada komunitas dan lingkungan (pekerjaan saya sebelum lanjut sekolah), sekarang kamu menjadi fokus pada konflik sumber daya alam?

Mungkin baginya hal-hal tersebut sangat berjarak, tapi bagi saya hal tersebut bersinggungan cukup dekat. Tiga tahun yang lalu, melalui Get Aceh lah mata saya semakin terbuka tentang konflik sumber daya alam ini. Waktu itu sedang getol-getolnya untuk membantu masyarakat Mane di Pidie agar mendapat pendapatan sampingan melalui aktivitas konservasi gajah.

DSC_0210
Credit: Mike Griffiths

Saya masih ingat hari itu saya berjalan sendiri masuk ke kampung yang lebih dalam, saya jumpa dengan pasangan kakek-nenek yang memiliki rumah pohon di ladang kebunnya. Saya tanya, itu untuk siapa? tadinya saya pikir itu untuk anak atau cucunya, ternyata tidak demikian. Rumah pohon itu dipergunakan untuk mengawasi gajah liar yang mulai sering muncul dan mengambil hasil kebun mereka. Lalu sang kakek cerita bahwa dia sudah pernah menanam cabe disepanjang pagar kebunnya, tetapi gajah-gajah liar tersebut tetap saja mengambil tanaman mereka. Menurut mereka tanaman yang mereka tanam, cokelat dan umbi-umbian, adalah cemilan kesukaan para gajah. Pernah, mereka mengusir gajah dengan petasan yang mereka dapatkan dari pemerintah daerah. Namun, para gajah liar dari Ekosistem Ulu Masen ini tetap saja kembali.

Saya ingat pernah baca buku di rumah Imam Mukim* di gampong (kampung) Mane bahwa gajah sebenarnya punya jalur teritori yang selalu dilewati dan akan melewati tempat yang sama dalam jangka waktu kurang lebih 2 tahun. Namun jika jalur yang dilewatinya berubah (tiba-tiba ada kegiatan manusia), maka mereka terpaksa membuka jalur baru.

Karena penasaran mencari akar sebab permasalahan ini saya pun pergi ke gampong sebelah: Geumpang. Lokasi yang dikenal kaya akan emas, sejak ditemukannya tahun 2007 silam dan mulai populer pada tahun 2009 [1]. Sayangnya saya tidak bisa masuk ke lokasi, karena hanya “panitia” lah yang bisa masuk area tersebut. Salah satu pekerja tambang yang saya temui mengiyakan bahwa lokasi yang mereka buka ini merupakan kawasan gajah. “Ya kalau poh meurah troh kamoe husé, kiban cara le” (Ya kalau gajah itu datang kami usir, gimana lagi).

Tidak ada yang berani mengganggu pertambangan emas ‘rakyat’ ini, “panitia” merupakan orang-orang yang mempunyai kapital dan ‘kekuatan’ yang kuat hingga otomatis menggerakkan pekerja untuk protes saat Gubernur berusaha menertibkannya. Saat berjalan ke pusat gampong saya melihat bahwa masyarakat sangat mudah untuk membeli alat-alat elektronik, kendaraan bermotor, dan perhiasan secara tunai. Walaupun merkuri yang digunakan untuk memproses emas telah meracuni ikan-ikan disungai, mereka tidak peduli, air bersih dan ikan segar dapat mereka beli kapanpun mereka mau.

Tapi keadaan sebaliknya terjadi di gampong Mane. Bagi daerah yang sangat tergantung pada aktivitas cocok tanam, air yang bersih merupakan faktor utama untuk mendapatkan rejeki. Gajah yang datang akibat perubahan jalur teritori merupakan masalah kedua yang harus mereka hadapi setelah berkurangnya air bersih.

Kini, aktivitas konservasi gajah di Geumpang harus berhenti, masalah yang cukup kompleks antara masyarakat dan gajah liar semakin menjadi. Masyarakat memandang gajah bukan lagi sebagai bagian dari ekosistem, tetapi menjadi musuh nyata di depan mata. Walau sebenarnya, dibalik itu ada pertambangan yang sangat sulit untuk diregulasi.

Jpeg
Penggambaran kehidupan masyarakat, gajah dan keadaan lingkungan pada jaman kerajaan Iskandar Muda. Foto diambil dari lukisan di Museum Aceh (2013).

Konflik sumber daya alam tidak hanya terjadi di Geumpang, tetapi juga di Kuala Tripa dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Konflik dengan pemodal kelapa sawit tidak hanya berdampak pada habitat orang-utan tetapi juga pada lahan masyarakat yang kian terbatas. Salah seorang kawan pernah membuat film dokumenter tentang masyarakat dikawasan tersebut yang kini tidak dapat mengubur sanak saudaranya jika sudah meninggal akibat tidak adanya lahan; hanya ada pilihan untuk melarungkan jasad ke laut.

Konflik sumber daya alam, apapun itu, akan terus terjadi selama sumber daya tersebut masih ada. Hanya karakternya saja yang berubah.

Jauh dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya saya malu saat menjadi penerima penghargaan nasional atas usaha mengkolaborasi kegiatan masyarakat dengan konservasi gajah. Malu karena sampai saat ini jumlah gajah di Aceh kian menurun. Usaha-usaha untuk mengkolaborasikan masyarakat dengan konservasi lingkunganpun menjadi serpihan debu jika kapital sudah berbicara.

Dulu, dan mungkin sampai sekarang, saya sering melihat ada orang-orang yang bersikap sinis pada orang-orang yang mendedikasikan dirinya pada lingkungan, apalagi pada hewan tertentu, kata mereka untuk apa memikirkan hewan atau lingkungan jika manusia saja masih banyak yang lapar.

Saya jadi bertanya-tanya : apakah harus menunggu hingga kebutuhan semua manusia tercukupi baru memikirkan perkara lingkungan/hewan lain? Pada saat itu mungkin saja sudah tidak ada udara segar sehingga kita harus membelinya seperti kita membeli air mineral kemasan saat ini? [2]

Sempat kesal tetapi tidak ada ruang untuk berdiskusi saat itu. Tetapi, bagaimanapun juga tanggapan orang, saya masih percaya jika masih ada masyarakat yang mau bersoladaritas bergerak bersama, maka tidak ada hal yang tidak mungkin tuk dicapai. Karena musuh kita, selama masih ada sumber daya alam, cuma satu: kerakusan.


*Aceh memiliki tata pemerintahan tersendiri: tidak ada desa tetapi mukim, tidak ada kecamatan tetapi gampong, tidak ada kepala desa tetapi imam mukim, tidak ada kepala camat tetapi geuchik.

[1] Rahmad, R. and Rini, C. (2014) Fokus liputan: kasak kusuk tambang emas geumpang. Available at: http://www.mongabay.co.id/2014/12/27/fokus-liputan-kasak-kusuk-tambang-emas-geumpang/ (Accessed: 17 April 2016).

[2] McKenzie, S. (2016) The smell of success? $115 bottles of British air sold to Chinese buyers. Available at: http://edition.cnn.com/2016/02/08/world/fresh-air-britain-china-bottles/ (Accessed: 19 April 2016).

Percepatan Penyebaran Pengetahuan

Sebelum berangkat ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan, salah seorang kawan baik kala itu mengingatkan untuk tetap ingat tujuan saya sekolah: mendapatkan akses agar mampu menyebarkan pengetahuan kepada orang-orang yang tidak bisa mendapatkan akses ilmu pengetahuan. Orang-orang yang dia maksud ini bukan cuma mereka yang sama sekali tidak mempunyai akses untuk mengenyam pendidikan, tapi juga untuk mereka yang masih berusaha agar dapat berbahasa global.

Tadinya saya pikir ini bukan perkara yang sulit, hingga saya tiba di sekolah dan harus menghadapi kenyataan yang menuntut lebih banyak hal dari yang saya duga. Bahkan pesan dia sempat terbenam di dasar kepala, tak tampak. Hingga seorang kawan lain bernama Aris Yunandar dalam sebuah percakapan teks sempat menyatakan misi “Percepatan Penyebaran Pengetahuan”, saya langsung teringat pesan si kawan dibulan april setahun silam.

Saya kemudian sadar kembali bahwa waktu untuk melakukan hal tersebut semakin menipis, 5 bulan kira-kira. Penyadaran posisi tersebut juga muncul saat Jeff Burley, pada acara Southeast Asian Studies Symposium dalam panel “Securitising” the Southest Asian Environment, bertanya pada peserta:

“Dalam acara simposium ini kita mendengar banyak orang berbicara tentang penelitiannya, tapi dari sekian banyak pembicara hanya beberapa orang saja yang juga berprofesi sebagai praktisi atau pegawai negri sipil, saya kemudian berpikir – apakah kita melalui acara ini dapat berkontribusi terhadap kebijakan suatu negara, atau setidaknya terhadap kebijakan, keadaan, daerah yang menjadi tempat kita meneliti?”

DSC_2931DSC_2932DSC_2952

Acara konferensi ataupun simposium selalu membutuhkan kontribusi dana dari peserta agar dapat berjalan, pun disisi lainnya masih banyak mahasiswa/non-mahasiswa yang ingin ikut tapi tidak dapat berkontribusi sebanyak yang dibutuhkan harus mencari cara lain agar dapat ikut. Sayangnya mereka yang bisa ikut, seringkali tidak sempat menuliskan pengetahuan yang didapatnya dari acara tersebut. Demi Percepatan Penyebaran Pengetahuan rasanya hal tersebut penting untuk dilakukan, paling tidak dalam bentuk catatan sederhana di blog ataupun notes di Facebook.

Sebenarnya misi Percepatan Penyebaran Pengetahuan juga sudah dilakukan oleh teman-teman lainnya, sadar ataupun tidak.

Cara yang paling mudah dan secara besar-besaran misalnya, melalui status di media sosial, seperti Facebook atau Twitter. Di Inggris Raya, ada sebuah kelompok diskusi bernama Lingkar Studi Cendikia (LSC) UK yang juga berusaha keras agar dapat melakukan hal yang sama. Konsepnya sederhana, mengadakan diskusi dengan tema berbeda di setiap bulan dan diadakan di kota yang berbeda-beda. Tahun lalu, saat pertama kali kelompok ini dibuat, hal yang mampu dilakukan masih terbatas pada diskusi kecil. Tahun ini, LSC berhasil membuat situs untuk menampung tulisan-tulisan terkait pengetahuan kebijakan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) yang dapat diakses melalui: policyreview.id. Selain itu beberapa teman di Oxford juga berniat untuk membuat majalah science populer (mudah-mudahan terwujud).

Jika saja, banyak orang yang mengecap pendidikan tinggi dan tetap rendah hati mau untuk menulis dan melakuan praktik terhadap misi Percepatan Penyebaran Pengetahuan, maka saya yakin kesetaraan akses terhadap ilmu akan semakin mudah dicapai.